Pihak berwenang Indonesia dan di Korea Selatan telah mengatakan kepada Reuters tentang serangan DDOS yang ditujukan untuk situs bank mereka. Kedua Bank Indonesia dan Bank Korea telah mengambil tindakan dengan memblokir beberapa IP yang dicurigai. Seorang juru bicara Bank Indonesia kepada Reuters bahwa mereka telah memblokir akses dari 149 negara.


Serangan DDoS dilakukan dengan menggunakan botnet perbankan, botnet adalah sekumpulan program yang saling terhubung melalui Internet yang berkomunikasi dengan program-program sejenis untuk melakukan tugas tertentu. Botnet bisa dipakai untuk menjaga keamanan kanal IRC, mengirimkan surel spam, atau berpartisipasi dalam serangan DDos.

Biasanya, mesin yang terinfeksi banyak tersebar di seluruh dunia, dan itulah mengapa mereka memblokir IP dari belahan dunia lain untuk menghindari serangan berbahaya tersebut, namun hal ini biasanya dianggap sebagai tindakan ekstrim. Industri perbankan hingga saat ini masih dihantui ketakutan dari serangan cyber seperti yang terjadi pada bank sentral Bangladesh belum lama ini. Februari lalu, penjahat cyber berhasil mencuri $ 81.000.000 dari Bangladesh dengan mengelabuhi SWIFT transaction system.

SWIFT [Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication].” Jaringan SWIFT diperkirakan saat ini digunakan lebih dari 8.300 bank, sekuritas, dan perusahaan yang berlokasi di lebih dari 208 negara. SWIFT memungkinkan untuk pertukaran jutaan pesan keuangan standar antara lembaga keuangan di seluruh dunia. Serangan DDoS secara teratur memberikan instruksi lebih serius kepada korban, semntara staf TI sibuk mempersipkan pertahanan serangan yang terjadi namun pada kenyataannya penjahat cyber justru menggunakan metode lain untuk menyusup sistem mereka.

Tanpa mengetahui siapa sebenarnya yang melakukan serangan, pihak berwenang kini menyalahkan Anonymous, pada Mei lalu serangkaian serangan ditujukan pada bank-bank di seluruh dunia. Operasi peretasan bank ini diberi nama 'OpIcarus' yang berlangsung selama satu bulan di bulan Mei. Pihak Anonymous sendiri mengklaim OpIcarus menjadi salah satu serangan terbesar dalam sejarah. Berlanjut pada bulan Juni dengan OpMayhem. Selain itu, Ghost Squad Hacker, salah satu subdivisi Anonymous paling aktif saat ini juga meluncurkan serangan dengan kode OpSilence yang ditujukan untuk media mainstream.
 
Top