North Atlantic Trade Organization (NATO) atau dikenal dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara secara resmi mengumumkan bahwa "cyber" akan menjadi medan pertempuran resmi untuk anggotanya, yang berarti bahwa serangan cyber pada satu negara akan memicu respons militer kolektif dari seluruh aliansi. Pengumuman ini datang dari Sekretaris Jenderal NATO - Jens Stoltenber, yang membuat pernyataan saat berbicara pada sebuah konferensi pers di Brussels, Belgia, Selasa 14 Juni seperti diinformasikan Bild.


Pasal 5 NATO menyatakan bahwa setiap serangan terhadap salah satu anggotanya dianggap sebagai serangan terhadap semua dan respon harus datang dari semua yang berarti serangan militer melalui udara, laut, dan darat. Dalam beberapa tahun terakhir, serangan cyber telah menciptakan medan pertempuran alternatif di mana tidak ada batas dan aliansi.

Iran, Cina, dan hacker Rusia diklaim telah merobek US dan negara Barat lainnya dan dalam kebanyakan kasus negara hanya mengeluarkan "tuduhan resmi" saja, tidak lebih. Sebagian besar anggota NATO telah mengakui dunia maya sebagai medan pertempuran resmi dan telah menyiapkan divisi peretasan pada pasukan militer mereka. Divisi AS terbaru yang melakukannya tahun ini adalah Marinir AS dan Angkatan Laut Amerika Serikat.

Sementara atribusi untuk serangan cyber mungkin tetap urusan yang rumit, serangan terhadap anggota NATO terjadi di masa lalu. Seperti kelompok cyber spionase Fancy Bear, juga sebagai Sofacy, APT28, Sednit, Pawn Storm, atau Strontium yang telah menyerang pangkalan militer dan pejabat NATO pada bulan April 2015.
 
Top