Dalam beberapa bulan terakhir, Presiden Barack Obama telah memerintahkan badan-badan intelijen AS untuk melakukan "full review" dari serangan cyber pra-pemilu terhadap organisasi Partai Demokrat terkait isu hasil pemilihan presiden 2016. "Presiden awal pekan ini menginstruksikan intelijen untuk melakukan full review pola aktivitas dunia maya berbahaya yang berhubungan dengan siklus pemilihan presiden kami," kata juru bicara Gedung Putih - Eric Schultz wartawan.


Pada acara yang diselenggarakan oleh Christian Science Monitor, Penasihat kontraterorisme Gedung Putih - Lisa Monaco mengumumkan bahwa Presiden telah mengarahkan "Komunitas Intelijen untuk melakukan review tentang apa yang terjadi selama pemilu 2016 AS".

Presiden mengharapkan laporan lengkap sebelum akhir masa jabatannya, dan Presiden terpilih Donald Trump mengambil alih kantor kepresidenan pada bulan Januari 2017 mendatang, Monaco mengatakan bahwa hasil investigasi hacking pra-pemilu akan dirilis ke Kongres sebelum Presiden Obama meninggalkan kantor.

Pada acara Heritage Foundation pada hari Rabu, Ketua Homeland Security - Michael McCaul, juga menyerukan gangguan Rusia pada pemilu 2016. "Jika kita tidak merespon dan menunjukkan kepada mereka bahwa ada konsekuensi," kata McCaul, "perilaku buruk akan terus berlanjut..., demokrasi kita menjadi target."

Pengumuman ini datang setelah Demokrat memaksa Gedung Putih untuk mengungkapkan rincian hacking Rusia dalam pemilihan presiden. Monaco mengatakan pemerintahan baru akan mewarisi ancaman keamanan nasional yang berkembang pesat yang berasal dari Internet di semua dimensi. Sementara itu, Trump mengatakan ia tidak yakin Rusia berada di balik serangan cyber pra-pemilu.

    "Saya tidak percaya mereka ikut campur," kata Trump dalam sebuah wawancara dengan majalah Time pekan ini.

Pada bulan Oktober, DHS dan badan intelijen AS secara resmi menyalahkan hacking Rusia terhadap Democratic National Committee (DNC) dan organisasi politik lainnya "dimaksudkan untuk mengganggu proses pemilu AS." Meskipun Rusia telah membantah semua tuduhan. Hacker Rusia juga diduga mencuri email pribadi dari Clinton yang kemudian diterbitkan oleh WikiLeaks hanya beberapa minggu sebelum hari pemilihan.
 
Top